Oleh: Ummu Ralzan
![]() |
| Ilustrasi |
"Ma...aku mau sekolah tapi mau sama guru yang asyik, yang suka ngelawak..."
"Bun, aku nanti lanjutkan kuliahnya di tempat yang dosen nya nggak killer, yang kasih aku nilai B lah minimal..."
"Ummi...aku ngak mau masuk sekolah karena temen nakal-nakal ..."
"Aduh jangan jauh jauhlah sekolahnya ya nak, dideket mana saja nanti kamu ngak bisa urus diri sendiri"
"Ah...jadi begini ajalah hidup, tidak perlu bersulit sulit belajar lagi, jalani hidup apa adanya"
Hakikat belajar adalah perjuangan, kalau tak mau berjuang, yaa bagaimana mau belajar.
Dan berjuang adalah sebuah proses, bukan hasil yang instan. Karenanya banyak kisah sukses dari orang orang yang selalu tekun dalam belajarnya, dari orang-orang yang meniti perjalanan mendapatkan ilmunya. Tak sedikit pula mereka yang harus mengorbankan banyak hal.
Terkisah perjuangan seorang anak bernama Muhammad bin Idris, sebelum ia terlahir sang ibunda sudah berjanji mempersembahkan sang buah hati untuk memperdalam ilmu agama, bahkan kalau Allah izinkan semoga anaknya ini menjadi imam besar. Dan perjuangan pun dimulai, sejak usia masih sangat muda muhamamd bin Idris berkelana mencari ilmu tanpa di dampingi oleh orang tuanya ia terus mencari ilmu, mulai dari Makkah kemudian ke Madinah hingga ke Irak dan disinilah ia menjadi imam besar. Dialah Imam Asy Syafi'i.
Disini bisa dibayangkan bahwa betapa pedihnya dan sedih jauh dari orang tua, menuntut ilmu, betapa iba hati kalau sekilas terlihat bahwa begitu tega nya sang ibu tak membersamai secara fisik sang anak. Membiarkan sang anak pergi, bahkan bila tak berhasil jangan bertemu dengan sang ibu.
Tega benar memang, namun apa yang dihasilkan semua adalah perjuangan. Sebesar apa perjuangan maka sebesar itu pula hasil yang didapat. Mengorbankan harta, tenaga, bahkan perasaan adalah perjuangan. Hingga berbuah manis apa yang sang ibunda cita citakan.
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, sang manusia paripurna itu pun juga berjuang dalam pembelajarannya. Berapa kali ia mulai mencoba membaca, dengan segala keterbatasannya yang ia miliki ia mampu menjadi manusia agung, kekasih sang khalik. Dari kegelapan menjadi terang benderang dalam hidupnya karena belajar karena berjuang. Tanpa bimbingan orang yang hakikatnya membimbing yaitu belaian orang yang telah melahirkannya bahkan.
Karena Islam adalah belajar pada mulanya, dan disanalah Allah memberikan suatu rahasia perjuangan
Allah telah memberikan kabar bahwa bagi siapa saja yang belajar menuntut ilmu, maka Dia akan meninggikan derajat nya, dan ini adalah bekal menuju surga.
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat" (Q.s. al-Mujadalah : 11)
Dan tak ada yang dapat menemani seseorang di alam kubur nanti, dengan salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat, buah hasil perjuangan dalam belajar.
"Jika manusia mati, semua amalnya terputus kecuali 3 amal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya". (HR. Nasai 3666, Turmudzi 1432 dan dishahihkan al-Albani).
Menjadi anak adalah belajar, menjadi istri atau suami adalah belajar, pun menjadi ibu atau ayah. Kita punya beberapa peran di dunia ini, melakoni semuanya adalah belajar. Dan sekaligus pula menjadi pejuang, memproses bersama menuju kebaikan dan kebahagiaan hakiki.



0 Komentar