Oleh : Abu Mu'adz al-Fatih
Generasi tarbiyah tahun 80-an pasti tahu bahwa kegiatan tarbiyah saat itu bukan kegiatan yang bisa dilakukan setiap orang. Bukan karena sulit, tapi lebih karena faktor keamanan. Maklum saja era Soeharto umat Islam dianggap ancaman yang perlu dikondisikan.
Tarbiyah di zaman itu membuat kita paham situasi, lewat pengayaan wawasan melalui materi. Membuat pendekatan da'wah penuh inovasi dan berkembang sesuai harapan. Dengan demikian selain terdidik secara pemikiran kita menjadi orang yang paham lapangan.
Keterbatasan SDM membuat kita efesien dan efektif mengelola kegiatan. Bayangkan saja, sebuah grup halaqoh beranggotakan hanya 8 orang bisa mengadakan acara rekruitmen (dauroh) di sebuah Villa di Puncak dengan budget tidak murah setiap pekan selama berbulan-bulan. Dan itu di lakukan murni mengandalkan uang sendiri tanpa donasi.
Generasi Tarbiyah zaman itu juga sangat mengenal setiap Ikhwannya dengan baik. Maklum saja, jumlah mereka masih sedikit, membuat hubungan sangat personal dan jauh dari basa-basi. Skala perkenalan kita saat itu melampaui batas-batas teritorial. Sangat membekas dan emosional.
Keterbatasan sarana atau media saat itu membuat segala kegiatan dirancang sedemikian efektif dengan target optimal. Bahkan Rihlah (wisata) saja harus sewa kendaraan karena ikhwah yang memiliki "kuda besi" (motor/mobil) termasuk jarang.
Walau penuh keterbatasan, tidak membuat upaya memperkokoh pemikiran berjalan lamban. Tabligh Akbar, Kajian Subuh, Bedah Buku atau Seminar Da'wah jadi rutin pekanan. Selain karena kebutuhan, saat itu mengakselerasi wawasan jadi kebutuhan.
Upaya pemenuhan kriteria dasar Muslim yang diinginkan jadi target harian. Suasananya mirip Santri tanpa pondokan. Karena saat itu memang hanya Iman dan semangat yang menjadi tujuan. Suasana itulah yang pada hari ini membentuk karakter generasi tarbiyah 80-an.
Semangat mencari ilmu, semangat mengamalkan, semangat menda'wahkan menjadi karakter generasi ini. Tidak gampang patah semangat, tidak galau dan ambekan kata orang Betawi.
Kebanyakan generasi tarbiyah awalan saat itu, sudah masuk usia paruh baya saat ini, sudah beranak cucu. Mereka masih menunjukan semangat yang sama walau usia tak bisa berdusta. Faktor kesehatan jadi hambatan. Asam urat, kolesterol, hipertensi sampai diabetes jadi teman sok akrab yang menggelayuti.
Namun kita juga bersedih Karena sebagiannya sudah tak bersama lagi, mereka telah mendahului menghadap Ilahi Rabbi. Penuh dengan kebesaran nama dan perjuangannya serta terbebas dari fitnah yang hari ini terpaksa kita temui.
Saat ini semua pengetahuan dan keikhlasan kita diuji dalam mengemban amanah tersebut. Apakah kita termasuk da'i yang akan menyelesaikan tugasnya di dunia sebelum mati, atau sekedar mengejar dunia dan ambisi.
Sebagaimana Rasul bersabda :
"Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas ditengah sekawanan domba, lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan" (HR At-Tirmidzi)
Mari kita doakan mereka yang tergelincir untuk kembali dalam da'wah ini dan menjadi da'i yang tidak terkotori oleh syahwat dan materi. Dan doakan juga mereka yang tetap Istiqomah baik yang sudah mendahului maupun yang masih hidup agar senantiasa Alloh kuatkan dan diganjar surga yang tinggi.
Renungan di Awal Muharram 1441



0 Komentar