Oleh : Abdullah Haidir

Ilustrasi (pexels.com)

Ini masih bulan Safar yang dahulu di tengah masyarakat Arab jahiliah dikenal sebagai bulan sial. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membatalkan keyakinan tersebut dengan menyatakan bahwa Safar bukan bulan sial.

Karena memang dalam ajaran Islam tidak ada keyakinan sial terhadap waktu tertentu, hari, tanggal, bulan atau tahun. Ini maknanya, Islam melarang kita bersikap pesimis, justeru menganjurkan agar kita selalu optimis.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senang dengan ungkapan dan harapan-harapan baik. Dikenal dengan istilah al fa’l, “Aku senang dengan al fa’l.” kata beliau, lalu sahabaat bertanya, ‘Apakah al fa’l itu?’ Beliau menjawab, ‘Ucapan yang baik.’ (HR. Bukhari)

Bahkan saat paling sulit sekalipun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih terus menghembuskan sikap optimis. Di saat penindasan kaum musyrikin Quraisy makin menjadi-jadi terhadap kaum muslimin di awal Islam, beliau sampaikan bahwa nanti suatu saat, dakwah Islam akan gemilang. Di saat para sahabat menggali parit dengan keletihan sangat untuk menghalangi pasukan sekutu, maka saat memukul sebuah batu, beliau nyatakan bahwa singgasana kerajaan Kisra sudah terbayang.

Optimisme dalam Islam bukan sekedar hiburan di tengah kekalahan, atau ungkapan manis para pecundang. Tapi optimism dalam Islam berangkat dari sebuah keyakinan bahwa kesudahan yang baik hanya Allah sediakan bagi mereka yang selalu menjaga ketakwaannya dan komitmen berjuang.

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِين

“Kesudahan yang baik bagi orang-orang bertakwa.” (QS. Al A'raf: 128)

Inilah kemenangan yang sesungguhnya. Itulah sebabnya, Ashabul Ukhdud selalu dikenang indah, walau mereka gugur terbakar, Ashabul Kahfi selalu menjadi inspirasi, walau mereka terusir dan dituduh makar.

Maka, ketika sang sahabat; harom bin Milhan, terbunuh oleh sebuah pengkhianatan saat menunaikan tugas dakwah, sesaat sebelum gugur, dengan penuh keyakinan dia berucap;

فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ

“Demi Allah, sungguh aku telah meraih kemenangan.” (HR. Bukhari)

Jika kita perkirakan tantangan perjuangan semakin berat, itu berarti medan kebaikan semakin besar, karena teguh dan terus berjuang dalam situasi sulit tentu akan lebih besar nilainya dibanding teguh dalam situasi nyaman. Bahkan, justeru dibalik berbagai kesulitan dan himpitan, sering kita dapati hikmah yang sebelumnya tidak kita perkirakan.

Maka, tidak perlu meratapi kondisi yang semakin berat, jangan perparah kesulitan dengan ungkapan-ungkapan pesimis apalagi putus asa. Tugas utama kita hanyalah bagaimana kita menjaga keteguhan, dan terus dalam perjuangan, walau berada dalam kesulitan. Karena, himpitan yang semakin menguatkan keteguhan dan meneguhkan kekuatan untuk tetap berada di jalan Allah, sesungguhnya adalah merupakan kemenangan. Sedangkan kelapangan yang melemahkan keteguhan dan memperteguh kelalaian, sesungguhnya adalah kekalahan.

Kemenangan bukan pada titik mana kita harus tiba, tapi kemenangan ada pada seberapa kuat menjaga komitmen di jalan Allah dan berjuang hingga akhir hayat kita, sampai titik manapun ujungnya.


Sumber : Ayolebihbaik.com